Shalat Subuh Berjamaah Nasional gagasan GNPF-MUI dan Subuh Mubarakah sebagai sebuah Program..

Tema di atas apabila kita amati seperti dua sisi mata uang, tetapi sangat menonjol adalah kesamaannya dalam kontek melaksanakan Shalat Subuh.  Gerakan Shalat Subuh Berjamaah secara nasional yang digelar hari Senin (12/12/2016) dari Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Bandung, yang digagas Gerakan Nasional Pengawal Fatwa-Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) merupakan aksi lanjutan pasca  Aksi Damai Bela Islam III di Tugu Lapangan Monumen Nasional (Monas), Jumat 2 Desember lalu adalah sebuah antitesis dari sikap Basuki Tjahaya Purnama  (Ahok) yang melakukan penistaan terhadap Agama Islam. Domain Agama yang sangat sensitif dilakukan oleh seorang pejabat publik yang dia sendiri tidak berada dalam keyakinan agama Islam. Kondisi ini diperparah dengan tidak tanggapnya Pemerintah atas penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok,  terkesan melindungi dan ada sikap yang berbeda dalam proses penegakan hukum terhadap mantan Gubernur Dki Jakarta ini (Ahok). Kecenderungan ini lahir bukan tanpa sebab, banyak orang yang melakukan penistaan agama Islam tanpa di proses langsung di tahan, sebut saja Arswendo Atmowiloto, Lia Eden dan Permadi. Kondisi seperti inilah yang membuat umat Islam terus menyuarakan supaya Ahok untuk bisa di tahan tanpa adanya perlakuan hukum yang istimewa, umat yang manaruh harapan atas penegakan hukum di negeri ini seakan apatis dan curiga, ada kekutaan yang besar untuk melindungi Ahok. Hal ini adalah wajar, ketika Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) tersandung beberapa kasus RS Sumber Waras, Masalah Proyek Reklamasi Pulau G, kasus pembelian lahan cengkareng dan banyak kasus-kasus lainnya yang melibatkan Ahok, dan semua kasus-kasus itu seperti telan di perut bumi.

Dari sudut pandang apapun Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) telah menistakan surat Al maidah ayat 51, meskipun kita harus sabar untuk menunggu ketuk palu dari hakim di pengadilan untuk memutuskan apakah ahok bersalah atau mungkin bebas dari kasus yang menimpanya.

Surat Al Maidah : 51 menjadi magnit atas kebangkitan umat Islam. ini terbukti betapa banyak jumlah massa yang hadir untuk melakukan demontrasi, baik pada tanggal 4 November 2016 (Aksi 411) dan 2 Desember 2016 (Aksi 212),  bahkan aksi 212 merupakan jumlah massa ( people power ) terbesar sepanjang sejarah Indonesia. ini membuktikan magnit Surat Al Maidah : 51 bisa mempersatukan semua golongan Islam di Indonesia. Tidak satu partai politikpun, satu organisasi apapun, ulama dan tokoh sekaliber apapun bisa membuat massa sedemikian tumpah ruah, tertib, damai dan aman. Inilah  kekuatan Al Qur’an yang  bisa mencabik langit atas arogansi penguasa melalui Surat Al Maidah : 51. Benar apa yang di katakan Dr.Kuntowijoyo  dalam sebuah buku “Identitas Politik Umat Islam” Mizan.1997.  Agama Islam jika di hina atau dilecehlan maka akan lahir solidarity umat, umat dari kalangan apapun akan bergerak untuk memperjuangan agamanya,dan tidak mengenal lagi yang namanya strata kehidupan, tukang becak, ojek, buruh kalangan santri, ulama dan lapisan masyarakat apapun akan bergerak untuk memperjuangan nilai-nilai agamanya. Surat Al Maidah : 51 melahirkan Solidarity umat dan  magnit yang begitu kuat. Kekuatan ini adalah mementum kebangkitan umat, sekarang bagaimana kita mengelola kebangkitan menjadi tujuan bersama demi kemaslahatan umat. Jangan sampai di negara kita yang mayoritas Islam terbaikan oleh kepentingan negara. Umat harus bergerak dan bersatu bagaimana keputusan-keputusan berpihak kepada umat tanpa mengabaikan kepentingan kelompok atau golongan lainnya, minoritas kita hargai tapi jangan sampai minoritas yang menindas mayoritas.

Shalat Subuh berjamaah yang digagas oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa-Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) digelar hari Senin (12/12/2016) dari Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Bandung memiliki sebuah esensi moral. Secara tidak langsung GNPF-MUI menyatakan bahwa Shalat Subuh sesungguhnya memiliki kekuatan yang luar biasa jika kita melaksanakan Shalat Subuh itu tepat pada waktunya. Dan dalam sebuah Buku “Keajaiban Shalat Subuh” Penulis ‘Imad ‘ALi ‘Abdus Sami’ Husain Penerbit Wacana Ilmiah Press mengatakan bahwa banyak kemulian dalam melaksanakan Shalat Subuh. jika kita amati ada sedikit perpedaan azan shalat Subuh daripada azan-azan shalat lainnya, maka kita akan mendengar kalimat Ashsalatu khairum minan naumyang jika di artikan kedalam Bahasa Indonesia itu berarti “shalat lebih baik daripada tidur”. Dan banyak fakta dan data yang menyatakan bahwa manfaat melakukan Shalat Subuh itu sungguh luar biasa baik secara  Fakta Ilmiah tentang fungsi syaraf, Fakta Ilmiah tentang darah dan Posisi Ruku’ (http://9trendingtopic.blogspot.com/2015/08/fakta-ilmiah-dibalik-adzan-shubuh-yang.html). Inilah esensi moral yang disampaikan oleh GNPF-MUI, kita bisa melaksanakan kepentingan umat itu jika kita betul-betul melaksanakan ajaran agama itu secara baik dan benar yang bermulai dari Subuh. Apapun bentuk dari kegiatan umat haruslah kita mulai dari Subuh. Bukankah jika kita seorang pedagang, maka harusnya aktivitas usaha kita itu kita mulai dari Subuh, ada pameo oleh orang tua kita terdahulu, jika kita beraktivitas usaha dagang yang kita laksanakan siang hari,Telat Bangun Pagi Rezeki dipatok Ayam“. begitu juga dengan apapun bentuk kegiatan dan usaha kita hendaknya kita bermulai dari Subuh.

Subuh Mubarakah sebagai sebuah Program.

Begitu hebatnya yang namanya sholat subuh sampai Rasulullah SAW sekalipun memberikan sebuah gambaran, bahwa seandainya kita mengetahui pahala yang tersimpan didalamnya niscaya kita akan menghadiri dengan cara merangkak sekalipun. dan  Rosul telah bersabda, Sholat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah sholat Isya dan Subuh.” (HR. Ahmad)

Perspektif keimanan telah menyebut shalat subuh memiliki beberapa keutamaan -meskipun bukan berarti sholat selain subuh dan ashar tidak lebih utama- dan “pahala”. Dimana jika hal tersebut diyakini dengan sebuah keimanan yang tulus niscaya akan memberikan kemaslahatan untuk kehidupan seseorang tersebut.

Terlepas dari semua itu, ada sebuah pikiran menggelitik ketika suatu ketika membaca tentang bagaimana kehidupan dan kebiasaan orang-orang hebat kelas dunia. Mereka sebut sebagai, the CEO habit’s, kebiasaan para CEO.

Ternyata, dari sekian banyak kebiasaan yang mirip antara CEO sukses yang satu dengan lainnya terdapat sebuah kesamaan, apa itu?, bangun lebih pagi. Kisah CEO habit’s ini tidak berbicara tentang agama, atau bahkan banyak dari mereka yang beragama selain Islam maupun tak beragama sekalipun.

Inilah dimensi menarik yang patut kita renungi bersama, mereka tidak sholat subuh tapi bangun pagi. Anehnya, banyak dari kita (atau termasuk saya) yang menjalani rutinitas sholat subuh namun bangun kesiangan. Jikapun kadang bangun lebih pagi, tidak jarang melanjutkan ritual diatas kasur :).  Subhanallah, begitu hebatnya Islam menuntut umatnya menjadi manusia pilihan di muka bumi. Sayangnya, kadang kita menjadikan hal tersebut sekedar teks Tuhan yang tak bernilai.

Hari ini, Esensi moral tentang Shalat Subuh telah di bangun oleh GNPF-MUI pada  hari Senin (12/12/2016) di Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Bandung. Begitu banyak orang hadir dalam melaksanakan Shalat Subuh tersebut, seakan-akan pelaksanaan Shalat Subuh seperti pelaksanaan Shalat Hari Raya. Bahkan Kang Emil (Wali Kota Bandung Ridwan Kamil ) akan Jadikan Subuh Berjamaah Sebagai Program Kota Bandung. (http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/16/12/12/oi1t90383-kang-emil-akan-jadikan-subuh-berjamaah-sebagai-program-kota-bandung
Bukankah program pelaksanan Shalat Subuh dan esensi moralnya sudah di bangun di kota Padang pada tahun 2008, Kang Emil berpikir baru pada Tahun 2016, sedangkan kota Padang telah melaksanaknnya pada Tahun 2008 di bawah Walikota H. Fauzi Bahar yang juga kader Partai Amanat Nasional. Bukankah di bawah Walikota Padang H. Fauzi Bahar program penerapan nilai-nilai keagamaan begitu populer sebut saja program wajib bisa baca tulis Alquran dan Pesantren Ramadhan, imbauan berpakaian muslim bagi anak sekolah, mencanangkan Asmaul Husna. Terakhir,  adalah Subuh Mubarakah. Membangun Aqidah dan Akhlak umat memang tidak sama dengan membangun sebuah insfrastruktur, seperti membuat gedung, jalan, jembatan dan lain sebagainya. Jika kita membangun gedung, jalan dan jembatan maka akan tampak langsung proses dari pembangunan tersebut, ada jadwal waktu yang di tetapkan untuk bisa menyelesaikan dalam membangun gedung, jalan dan jembatan tersebut. Akan tetapi dalam membangun Aqidah dan Akhlak umat membutuhkan 10 sampai 15 tahun untuk memetik hasilnya. memang benar kata orang bijak, Sebuah kebenaran itu Tak lapuk dek hujan, tak lekang dek panas”.