MOZAIK ISLAM

HIDUP ADALAH BELAJAR, HIDUP ADALAH BERBUAT

Oleh : Adrison Adnan

siklus1

 

Kehidupan manusia secara sunnatullah di mulai dari segala sesuatu dari nol,  ketika seorang manusia di lahirkan dia tidak punya apa-apa. Bahkan ketika kita lahir yang kita bawa hanya tangis dan tidak sehelai benangpun melekat di tubuh kita. Dan ketika kita lahir itu bagi muslim jika bayi laki-laki maka akan langsung di azankan oleh orang tuanya, begitu juga jika bayi perempuan maka langsung di aqamatkan oleh orang tuanya. Proses kehidupan berjalan sedemikan rupa dari Lahir,  menjalani kehidupan dan berujung dengan kematian. Inilah siklus kehidupan.

siklus kehidupan

Hakekat hidup manusia semula adalah baik. Dalam arti seorang bayi yang lahir adalah Fitrah, bersih, suci, tanpa noda atau dosa  Dalam Hadist yang Mulia menyatakan  Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir. Jika hakekat kita adalah baik kenapa dalam perkembangan proses kehidupan nilai-nilai baik yang ada pada kita tercerabut.  Jika kita amati apa yang menjadi landasan berpijak dari hadist itu maka peran orang tua sangat dominan untuk menjadikan seseorang menjadi baik dan menjadi buruk.

Dalam kontek kekinian, sikap dan prilaku seseorang bahkan jauh dari nilai-nilai (value) sebagai manusia yang fitrah. Kondisi ini diperparah lagi faktor lingkungan dan budaya-budaya yang berkembang di dalam masyarakat kita yang semakin pragmatis dan materialistis.  Budaya Hedonisme yang semakin kental tumbuh subur dalam masyarakat kita memberengus nilai-nilai agama sehingga menjadi persoalan yang harus kita sadari. Masyarakat kita semakin menjauh dari nilai fitrah yang ada pada dirinya. Kondisi – kondisi ini berkembang terus tanpa kita sadari seakan-akan Dunialah tujuan hidup kita, Padahal hakekat hidup sejatinya setelah hidup ada kehidupan yang abadi dan kekal. Kita lupa dan tidak sadar hal tersebut. Bahwa kematian seseorang tidak bisa ditentukan dimana, kapan dan waktunya. Jika kematian telah ditetapkan apakah kehidupan dunia yang kita cari inikah yang bisa menyelamatkan kita..???

Ada ungkapan yang tidak asing ditelinga kita Bekerjalah engkau untuk kepentingan duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan bekerjalah engkau untuk kepentingan akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok.  Ungkapan tersebut sangat populer di masyarakat. Saking populernya, dianggap sebagai hadits Nabi Saw. Sebenarnya, ungkapan tersebut BUKAN hadits. Ungkapan itu adalah perkataan seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu anhu. Jadi, ini hanya soal pandangan Abdullah tentang masalah keduniaan. Ungkapan itu sesungguhnya mensyaratkan keseimbangan antara kehidupan akherat dan kehidupan dunia, akan tetapi kehidupan akherat lebih utama dari kehidupan dunia. (disalin dari  https://bangaziem.wordpress.com/2010/06/16/bekerjalah-untuk-duniamu-seakan-akan-engkau-akan-hidup-selamanya/)

Jika kehidupan Akherat  adalah yang paling utama tentu saja kita harus punya bekal menuju akan kehidupan akherat tersebut. Apa bekal yang mesti kita persiapan dalam menuju pada kehidupan akherat itu tentu saja  Amal Saleh.

Amal saleh adalah melakukan pekerjaan baik yang bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang lain berdasarkan syariat Islam serta ikhlas karena Allah Swt semata. Amal saleh termasuk perintah Allah karena dengan beramal saleh maka akan tercipta kehidupan yang tentram dan bahagia. Amal saleh adalah perbuatan atau sikap yang harus di miliki oleh setiap muslim sebab orang yang amal saleh akan menjadi penghuni surga serta kekal didalamnya. Sebagaimana firman Allah : “Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya”. (QS AL-Baqarah : 82)

Sebagai manusia tentu saja Amal Saleh tidak terlepas dari apa yang kita perbuat dalam kehidupan. Apa-apa saja ruang lingkup amal saleh dan contoh-contohnya bisa di lihat : (http://www.bacaanmadani.com/2016/10/pengertian-amal-saleh-dan-contoh-amal.html. Amal Saleh itu dimensinya adalah perbuatan. Perbuatan individu yang seolah-olah kita melihat Alllah untuk mengerjakannya.

Dalam melakukan amal saleh tentu saja ada ilmu yang menuntun kita untuk bisa mencapai kesempurnaan dari amal saleh tersebut. Bagaimana mungkin kemudian kesempurnaan kita beramal tanpa dituntun dengan pengetahuan, tentu saja menjadi sesuatu yang tidak berada pada tempatnya. Tentu saja ilmu adalah pedomannya.

Setiap muslim wajib menuntut ilmu. Rasulullah saw bersabda: “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan”. Allah memberikan keutamaan dan kemuliaan bagi orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya dalam

Al-Qur`an surat Al-Mujadilah ayat 11 : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat ”. Orang-orang yang berilmu akan pula dimudahkan jalannya ke surga oleh Allah dan senantiasa didoakan oleh para malaikat.

Sebenarnya ilmu hanyalah merupakan suatu alat untuk mendekatkan diri kita kepada Allah.  Adapun fungsi ilmu itu antara lain adalah : 1). Sebagai petunjuk keimanan (QS. 22:54, 3:7, 35:28) 2). Sebagai petunjuk beramal

“Seorang alim ( berilmu ) dengan ilmunya dan amal perbuatannya akan berada di dalam surga, maka apabila seseorang yang berilmu tidak mengamalkan ilmunya maka ilmu dan amalnya akan berada di dalam surga, sedangkan dirinya akan berada dalam neraka” (HR. Daiylami)

Keutamaan manusia dari makhluk Allah lainnya terletak pada ilmunya. Allah bahkan menyuruh para malaikat agar sujud kepada Nabi Adam as karena kelebihan ilmu yang dimilikinya. Cara kita bersyukur atas keutamaan yang Allah berikan kepada kita adalah dengan menggunakan segala potensi yang ada pada diri kita untuk Allah atau di jalan Allah. Dengan meggunakan segala potensi diri kita tentu saja Ilmu dan perbuatan ( Amal Saleh ) adalah sesuatu yang harus berbanding lurus. Ilmu tanpa Agama Buta, Agama Tanpa Ilmu Lumpuh. Albert Einstein, seorang ilmuwan Yahudi pernah mengatakan “ilmu tanpa agama buta, agama tanpa ilmu lumpuh” Ada dua entry point disini pertama tentang pentingnya agama untuk melambari ilmu pengetahuan dan yang kedua perlunya ilmu dalam pengamalan agama.

Agama mestilah di amalkan dengan pengetahuan yang seberapa kecilnya pengetahuan itu di miliki oleh seseorang atau individu, tanpa adanya pengamalan dari ilmu yang kita miliki maka Ilmu itu hanya sebuah pohon yang tak berbuah. ( dalam mahfudzot atau kata mutiara bahasa Arab ). Akhirnya dalam proses kehidupan ini mestilah kita belajar dan mestilah kita berbuat. Semoga…..!!!!